-->
  • Explore

    Copyright © BERITABARU.ID | BERITA TERKINI, BERITA HARI INI INDONESIA
    Berita Baru Portal Berita Nasional

    Iklan

    Menu Bawah

    Hari Demam Berdarah Nasional, RSUD dr. Iskak Tulungagung Himbau Pencegahan DBD

    BeritaBaru.id
    24 April 2021, 15.23 WIB Last Updated 2021-04-24T15:46:59Z

    BERITA BARU ■ Demam berdarah dengue atau DBD masih menjadi penyakit yang bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jumlah kasusnya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Setiap tanggal 22 April, pemerintah menjadikannya sebagai hari Demam Berdarah Nasional.

    RSUD dr. Iskak pun turut memperingati. Salah satunya memberikan layanan informasi pencegahan, gejala DBD hingga penanganannya.

    Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Iskak Tulungagung dr. Herlin Kristanti, Sp. A mengatakan, pencegahan penyebaran nyamuk aides aegypti yang gigitannya bisa membikin DBD tidak cuma di rumah saja, namun lingkungan secara keseluruhan.

    ”Pasien kami ada yang heran, sudah membersihkan rumah, kok masih ada anggota keluarga yang terkena DBD,” kata Dokter Herlin.

    Menurut dia, rumah yang bersih belum menjamin bahwa orang-orang tidak terkena demam berdarah, nyamuk terbang sesuka hati ke mana-mana. Nyamuk lebih menyukai pada tempat kubangan air bersih yang terbuka untuk menetaskan telur.

    ”Bisa dicegah dengan mengganti air secara berkala. Telur nyamuk yang berada di dalam air bisa tidak jadi berkembang biak,” terangnya.

    Ia menjelaskan, nyamuk aides aegypti suka berterbangan pada waktu pagi hingga siang hari. Orang tua bisa mewaspadai anak-anaknya pada waktu-waktu tersebut.

    Bila anak-anak terasa demam, maka orang tua perlu mengenai gejala DBD supaya bisa tertangani sejak dini.

    Dokter Herlin mengatakan, gejala DBD dengan masa inkubasi atau masa perjalanan penyakitnya sekitar 3 – 6 hari.

    ”Kenali dahulu panasnya DBD, yakni panas yang tinggi dengan tiba-tiba. Jika panasnya tidak langsung tinggi, atau sedang-sedang saja, maka terkena bakteri bukan virus,” paparnya.

    Jika terkena panas, anak bisa diberikan obat penurun panas sesuai berat badan bayi, serta sesuai kebutuhan anak, seperti sirup atau tablet. Orang dewasa juga demikian, minum paracetamol untuk menurunkan panas.

    Untuk menurunkan panas, bisa juga dikompres air hangat dengan handuk yang lembut.

    Gejala DBD lainnya seperti, mual, muntah, pusing, serta gangguan pada pencernaan lain, yaitu diare.

    Hal yang tak kalah penting, yakni anak diberikan cairan yang mengandung gula, terutama mulut anak merasa pahit karena demam.

    ”Bisa susu, madu, bebas pengawet, yang terpenting mengandung glokusa, kalau bayi bisa ASI-nya diberikan sesering mungkin,” kata Dokter Herlin.

    Selanjutnya, anak yang merasakan panas DBD akan cepat tinggi, lalu mulai menurun pada hari ketiga. Hal itu bukan sembuh, namun berada pada fase kritis. Biasanya orang tua menyakini anak sembuh dari demam.

    ”Hati-hati jika hari ketiga, masih panas, maka perlu dilakukan tes darah di laboratorium untuk memastikan terkena demam berdarah atau tidak,” kata dia. Bila hasil tes laboratorium terdapat leukopenia (leukosit rendah) dan trombopenia (trombosit rendah), maka pasien didagnosis terkena DBD. (Pd/Ar)

    Your comment

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    BERITA TERBARU